Jumat, 12 Desember 2014

rld.dll file sistem penjalan pes 13,14



ekstrak file dulu :)
===========================================================
Matikan Anti Virus
Copy Rld.dll Ke Folder Instalasi Pes 2013 Anda.dan c:windows/sistem 32 .

yang masih pada bingung tanya aja hehehe


>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> download <<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<

Selasa, 09 Desember 2014

Terkuaknya insiden "SADAP HP PRESIDEN" oleh australia

Komunikasi Indonesia selama ini disadap Singapore Telecom (SingTel), operator telekomunikasi milik pemerintah Singapura. Singtel yang memiliki 35 persen saham di Telkomsel ini disebut oleh Edward Snowden, intelijen AS yang menjadi whistleblower, memfasilitasi akses bagi badan-badan intelijen yang mencakup telepon dan lalu lintas internet.

Demikian informasi yang disampaikan Sydney Morning Herald, Jumat (22/11). Media Australia itu menyebutkan, apa yang dilakukan SingTel adalah bagian dari kemitraan antara badan-badan intelijen negara, yang meluas ke rekan Inggris dan Amerika, untuk memanfaatkan kabel serat optik bawah laut yang menghubungkan Asia, Timur Tengah dan Eropa (SEA-ME-WE).

SEA-ME-WE-3 merupakan kabel serat optik telekomunikasi bawah laut yang selesai pada tahun 2000 dengan panjang 39.000 km.

Menurut SMH yang dikutip juga dari IndoICT, berdasarkan data dari intelijen Australia didapat informasi bahwa Singapura bekerja sama dalam mengakses dan berbagi komunikasi yang dibawa oleh kabel SEA-ME-WE-3 kabel. Badan nasional Australia juga mengakses lalu lintas kabel SEA-ME-WE-3 yang mendarat di Perth.

Dengan kabel yang melintasi Asia Tenggara, Timur Tengah dan Eropa Barat, maka hampir semua negara yang dilintasi dalam posisi tidak aman. Pasalnya, selain Singapura dan Australia, Inggris dan Amerika pun mendapat informasi penting hasil penyadapan. Praktik ini disebut-sebut sudah berjalan hingga 15 tahunan.

Program penyadapan yang dilakukan untuk memanen data dari email, pesan instan (instan messaging), telepon password dan sebagainya, yang dilakukan dari lalu lintas data melalui kabel serat optik bawah laut diketahui berkode sandi TEMPORA. TEMPORA merupakan program intersepsi yang dimotori Inggris melalui Government Communications Headquarters (GCHQ).

Selain itu, kabar mengejutkan mengenai penyadapan yang terjadi di Indonesia juga disampaikan harian The Australian. Media ini menuliskan bahwa pemerintah Australia juga menyadap satelit Palapa milik Indonesia. Pihak yang diduga menyadap adalah Australian Signals Directorate (ASD), salah satu direktorat di Kementerian Pertahanan Australia yang bertanggung jawab atas signals intelligence (SIGNIT).

Informasi mengenai penyadapan satelit ini diungkap Des Ball, professor dari Australian National University's Strategic and Defence Studies Centre. Dalam artikel itu, Satelit Palapa disebut-sebut sebagai sasaran kunci penyadapan yang dilakukan Australia.

Sebelum mencuat soal penyadapan satelit Palapa, surat kabar Australia Sidney Morning Herald pada 29 Oktober 2013 juga mengabarkan adanya penyadapan yang dilakukan pemerintah AS terhadap pemerintah Indonesia. Bahkan bukan hanya Jakarta, AS juga disebut-sebut menyadap semua negara di Asia Tenggara lainnya.
sumber merdeka.com

Alat-alat intelijen canggih milik CIA


CIA sangat pribadi/rahasia tentang operasi dan senjata, tetapi mereka membuka informasi tentang beberapa alat mata-mata kepada untuk publik saat ini yang dipajang di museum CIA yang dapat diakses publik. Seperti yang diharapkan, sebagian besar gadget/peralatan yang ditampilkan cukup mengesankan.

1. "Belly Buster" Hand-Crank Audio Drill
ho5xhwle
CIA sangat pribadi/rahasia tentang operasi dan senjata, tetapi mereka membuka informasi tentang beberapa alat mata-mata kepada untuk publik saat ini yang dipajang di museum CIA yang dapat diakses publik. Seperti yang diharapkan, sebagian besar gadget/peralatan yang ditampilkan cukup mengesankan.

2. Letter Remover
dhnc2h8c
vp0lsomc
3. Stereoscope and Case
y11osh75
The stereoscope, digunakan selama Perang Dunia II, untuk membantu Sekutu menganalisis foto dan memeriksa gambar wilayah musuh yang diambil oleh pesawat dengan kamera terpasang. Hal ini memungkinkan mereka untuk melihat film ini dalam format 3-D. 

4. Dragonfly Insectothopter
wcgqonak
Dikembangkan oleh Kantor Penelitian dan Pengembangan CIA pada 1970-an, mikro Unmanned Aerial Vehicle (UAV) ini adalah kendaraan udara pertama berukuran serangga (Insectothopter) yang dikembangkan untuk mengeksplorasi pengumpulan data intelijen melalui perangkat miniatur.

5. CIA Semi-Submersible
36kmfdeg
Ini dirancang CIA pada tahun 1950. Kapal ini tidak membawa senjata, menyediakan tempat sempit, dan diperlukan sebuah "kapal induk" untuk transportasi dan pemulihan, tetapi bisa masuk ke daerah yang kapal normal tidak bisa masuki. 

6. Microdot Camera
whey8mt8
Untuk mentransfer dokumen rahasia selama Perang Dingin dibantu oleh kamera ini, microdot yang dapat mamphoto seluruh informasi dan membuat ke sepotong halaman kecil film. Microdots dapat tersembunyi di cincin, koin berongga dan item lainnya. Penerima akan membaca microdot dengan alat penampil khusus. 

7. "Matchbox" Camera
ddvktngj
The Eastman Kodak Company yang mengembangkan dan memproduksi kamera ini untuk Office of Strategic Services (OSS). Dibuat dalam bentuk kotak korek api yang digunakan pada saat itu, bisa jadi disamarkan dengan menambahkan label kotak korek api dalam berbagai bahasa dan gaya yang relevan dengan negara di mana ia akan digunakan.

8. Single-Use Encoder Pads
uyicqjl2
Bantalan satu kali pakai (OTP) yang diluncurkan untuk pencocokan dua set encoding: satu set adalah untuk encoder dan satu untuk decoder. Tidak ada dua halaman yang sama. Setiap lembar berisi kunci acak dalam bentuk kelompok lima-digit. Setelah sheet digunakan untuk mengkodekan pesan kemudian akan robek dari pad dan hancur. Karena kode yang digunakan hanya sekali, mereka hampir tidak terpecahkan. 

9. “Dead” Drop Spike
75aqlgur
Digunakan untuk memfasilitasi komunikasi yang aman antara agen dan handler nya, spike, yang berisi dokumen atau film, bisa didorong ke tanah oleh agen di sebuah tempat yang telah ditentukan dan kemudian diambil lagi. 

10. M-209 Cipher Box
kpdave6e
Perangkat cipher mekanis yang dirancang oleh Boris Hagelin yang banyak digunakan oleh Angkatan Darat AS selama Perang Dunia II. Kompak dan portabel, menggunakan serangkaian rotor untuk encode dan decode pesan militer rahasia.

11. Pigeon Camera
uboz4mh4
Kantor Penelitian dan Pengembangan CIA menciptakan kamera yang kecil dan cukup ringan untuk dipasang di burung merpati. Foto diambil dari burung yang terbang bisa dalam ratusan meter dari target, menghasilkan banyak gambar lebih rinci dibandingkan dengan metode menangkap gambar yang lain .

12. Surveillance Fashion
uxye2d13
Untuk wanita yang menghadiri urusan affair, peralatan pengawasan tidak harus berpakaian lusuh dan kuno. pakaian dari Kantor Teknis Kesiapan ini membolehkan mata-mata untuk mengunyah makanan kecil dan menari waltz sementara diam-diam merekam ditengah dansa dan obrolan koktail.

13. Code in a Compact
rl2z1olb
Seorang agen wanita bisa diam-diam membedaki hidungnya sementara cermin ini bekerja.

14. Escape Map
t3ry72wj
Dicetak pada sutra, peta ini melarikan diri bisa dilipat efisien untuk disembunyikan dan tidak akan berisik saat dibuka dan ditutup. Peta ini dicetak dengan pewarna tahan air sehingga warna tidak akan pudar jika agen harus membuat pelarian diri di air secara mendadak.

15. A-12 Spurs
8lkarseq
"taji," ini dipakai di pesawat terbang, diikat di atas tumit boot dan masing-masing melekat pada bola terhubung ke kabel di bawah kursi pesawat. Jika pilot harus keluar dalam keadaan darurat, kabel akan mengikat kaki pemakainya kembali di bawah kursi untuk memastikan keluar secara halus dan aman dari pesawat.

Edward Snowden (PEMBOCOR DATA CIA)

TE Hong Kong - Seorang mantan karyawan CIA yang bekerja sebagai kontraktor di Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA) mengakui dirinya adalah pembocor rincian rahasia program pengawasan tertinggi AS. Edward Snowden, nama pria ini, mengaku bertindak berdasar hati nuraninya untuk melindungi "kebebasan dasar bagi orang-orang di seluruh dunia".

Bersembunyi di sebuah kamar hotel di Hong Kong, pria 29 tahun ini mengatakan ia telah berpikir panjang dan keras sebelum mempublikasikan rincian dari program NSA berkode "PRISM". Ia mengatakan harus melakukannya (membocorkan rahasia) karena merasa negaranya sedang membangun mesin spionase yang tidak akuntabel dan secara rahasia memata-matai setiap warga negara AS.

Baik Washington Post dan surat kabar Inggris Guardian - dua media tempat ia membocorkan dokumen-dokumen curian itu - menuliskan identitasnya pada hari Minggu. "Aku tidak ingin hidup dalam masyarakat yang melakukan hal semacam ini ... Aku tidak ingin hidup di dunia di mana segala sesuatu yang aku lakukan dan katakan dicatat. Itu bukan sesuatu yang harus aku dukung atau aku ikuti," katanya kepada The Guardian, yang menerbitkan sebuah video wawancara dengannya.

Menurutnya, NSA telah membangun infrastruktur yang memungkinkan untuk mencegat hampir segalanya. Dengan kemampuan ini, sebagian besar komunikasi orang-orang secara otomatis tercatat walau dia bukan target. "Jika aku ingin melihat email atau telepon istri Anda, semua bisa aku lakukan dengan gampang. Aku bisa mendapatkan email, password, catatan telepon, kartu kredit, dan lainnya," katanya.

The Guardian menerbitkan berita pekan ini bahwa layanan keamanan AS memantau data tentang panggilan telepon dari Verizon dan data internet dari perusahaan-perusahaan besar seperti Google dan Facebook.

Pemaparan dari program rahasia telah memicu perdebatan luas di Amerika Serikat dan luar negeri tentang jangkauan NSA yang diperluas, dengan program pengawasan secara dramatis dalam dekade terakhir. Para pejabat AS mengatakan badan ini beroperasi sesuai hukum.

Keputusan Snowden untuk mengungkapkan identitas dan keberadaannya menurut Reuters makin mempermalukan pemerintahan Presiden Barack Obama. Skandal Snowden merupakan kebocoran rahasia AS terbesar setelah Wikileaks membeber dokumen rahasia Departemen Luar Negeri AS.

Kebrutalan CIA Ungkap Jati Diri Amerika


Penulis : Tim Riset Global Future Institute (GFI) 

LOGO CIA
Terbongkarnya teknik badan intelijen Amerka Serikat Central Intelligence Agency (CIA) dalam menyiksa para tersangka yang diduga sebagai teroris, telah mengungkap sejatinya Amerika sebagai negara yang menghalalkan pelanggaran hak-hak asasi manusia. Namun satu hal yang kiranya bisa kita contoh di Indonesia, upaya pengungkapan aib nasional itu justru muncul dari kalangan dalam negeri Amerika itu sendiri.

Mari kita buka kembali sebuah laporan rahasia terbitan 2004 lalu yang mengungkap bagaiaman beberapa anggota CIA tega-teganya mengancam akan membunuh anak-anak para tersangka teroris sebagai bagian dari teknik interogasi agar si tersangka bersedia membuka mulut dan membuka informasi sesuai kemauan para penyelidik dari CIA tersebut.

Inilah yang dilakukan para agen CIA terhadap para tersangka yang diduga terorirs di penjara Guantanamo. Intisari dari laporan jelaslah sudah, bahwa para agen CIA telah menghalalkan segala cara untuk mendapatkan informasi.

Temuan dari laporan terbitan 2004 itu sebenarnya sudah cukup memadai untuk menggerakkan pengadilan Amerika untuk memeriksa dan menginvestigasi para agen CIA yang diduga terlibat dalam penggunaan teknik penyiksaan beraroma teror tersebut.

Sayangnya, para petinggi CIA sampai tulisan ini dibuat tetap bersikeras melindungi para anak buahnya dengan dalih semuanya sudah berjalan sesuai prosedur.

Untunglah di Amerika masih saja ada segelintir pejabat pemerintahan yang memiliki akal sehat dan mengikuti suara hati nuraninya. Dial ah John Durham, jaksa penuntut umum yang tetap berencana menyelidiki dan mengungkap kasus-kasus pelanggaran oleh CIA yang mengandung pelanggaran hak-hak asasi manusia.

Bahkan Departemen Kehakiman Ameirka pun rupanya tidak mau tinggal diam begitu saja dengan berencana membuka kembali kasus-kasus belasan tahanan yang mengaku dianiaya.

Departemen Kehakiman nampaknya sempat dibuat shock dengan sebuah temuan yang menggambarkan bagaimana seorang agen CIA memperlakukan tersangka teroris Khalid Sheikh Mohammed. Menurut alkisah, kepada si tersangka ini agen CIA tersebut mengancam akan membunuh anak-anak Khalid jika terjadi serangan baru.Sementara agen lainnya bahkan mengancam akan memperkosa ibu Khalid di depannya.

Lagi-lagi temuan dari laporan jenis ini dibantah mentah-mentah oleh para petinggi CIA. Bahkan untuk temuan yang satu ini, Direktur CIA Leon Penetta sendiri yang turun langsung membantah temuan ini dan menilainya sebagai “kisah lama.” Sayang sekali Direktur CIA Penetta tidak mengklarifikasi apa yang dia sebut dengan kisah lama. Apakah hanya karena kisah lama lalu kita mengabaikan kandungan pelanggaran HAM dari temuan sejenis ini?

Jelas ini mengungkap jati diri Amerika yang sebenarnya tidak berbeda dengan beberapa negara-negara lain yang menghalalkan praktek pelanggaran HAM termasuk dihalalkannya teknik penyiksaan dan teror mental terhadap para tersangka yang diduga teroris.

Lebih parahnya lagi, Direktur CIA membela dan melindugi kebrutalan para agen CIA anak buahnya tersebut sebagai “orang-orang yang melakukan tugas negara” dan berhasil menghimpunj informasi intelijen bernilai tinggi dari para tahanan yang diduga sebagai teroris.

Ironis memang, ketika Amerika dan beebrapa negara Eropa dengan lantang menyerukan ditegakkannya praktek HAM di Myanmar terhadap Aung San Suu Kyi, di Cina, maupun di Rusia. Padahal di Amerika sendiri praktek menghalalkan teknik teror dan penyiksaan terhadap para tahanan nyata-nyata telah diperaktekkan oleh para agen CIA.

Celakanya lagi, di era kepresidenan Barrack Obama praktek semacam ini nampaknya tetap dilanjutkan. Meski di awal Januari 2009 Obama mengeluarkan kebijakan baru pelarangan teknik interogasi yang meliputi waterboarding, sleep deprivation, insect, dan walling, namun Kamis (16/4) anehnya Obama mengeluarkan empat dokumen tentang pelegalan metode interogasi yang selama ini diterapkan CIA tersebut.

Tentu saja ini menjadi tanda tanya besar mengapa Obama bisa plin plan seperti itu. Apa karena dia mendapat tekanan dari elemen garis keras di Gedung Putih maupun CIA? Ataukah hal itu memang secara sadar merupakan kebijakan Obama yang sudah direncanakan jauh-jauh hari? Yang jelas, terungkapnya kasus penyiksaan yang dilakukan CIA sekarang telah menghancurkan mitos Amerka sebagai negara suri tauladan dalam penegakan HAM di seluruh dunia.

Semua itu memang gara-gara masa pemerintahan George W. Bush yang sudah keblinger. Betapa tidak. Pada November 2005, berarti tak lama setelah memenangi tampuk kepresidenannya yang kedua kali, Bush secara resmi memperbolehkan CIA melakukan interogasi di sejumlah penjara rahasia di Eropa Timur dan Afghanistan, sehingga pada perkembangannya telah mengundang kecaman dari dunia internasional.  

Sebenarnya legalisasi Bush pada 2005 hanya memperkuat praktek-praktek yang sudah dilakukan CIA jauh-jauh hari sebelumnya. Misalnya pada 2003 terungkap bahwa ada sejumlah foto mengenai penyiksaan oleh militer Amerika di penjara Abu Ghraib, Baghdad, Irak. Sehingga ketika mencuat ke publik, kemudian menuai kemarahan dari beberapa negara Arab dan Umat Islam sedunia pada umumnya.

Hanya saja konteks temuan yang satu ini merupakan akibat langsung dari agresi militer Amerika ke Irak dan Afghanistan.

Sebenarnya dari dalam negeri Amerika sendiri berbagai suara lantang sempat berkumandangn menentang teknik penyiksaan terhadap tahanan di beberapa penjara rahasia Amerika. Tak kurang dari beberapa senator dari Partai Republik yang pro George Bush pun angkat bicara termasuk John McCain, mantan calon presiden Partai Republik rival dari Barrack Obama.

Bahkan beberapa senator baik Republik maupun Demokrat sepakat untuk mengesahkan peraturan yang melindungi terssangka teroris asing yang dipenjara di Guantanamo,Kuba. Bahkan mantan Menteri Luar Negeri era Bush Colin Powel, menilai tindakan semacam itu sebagai merusak moralitas Amerika dalam memerangi terorisme.

Ini memang merupakan pelajaran berharga bagi Indonesia, khususnya dalam perang melawan terorisme seperti yang sedang dilancarkan sekarang menyusul bom Hotel Marriot dan Ritz Carlton Juli lalu. Jangan sampai hanya karena bermaksud memerangi terorisme, pemerintah justru terjerumus menciptakan teror di tengah masyarakat.

Bayangkan saja ketika pemerintah Bush melalui National Security Agency dengan atas nama keamanan nasional, kemudian menyadap semua telepon dan email warga Amerika tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Betul-betul suatu pelanggaran HAM sampai pada taraf mengganggu privasi seseorang.